Tidak Pernah Tahu


Petang ini tiba-tiba saya teringat ucapan salah satu dosen beberapa hari lalu. “Ketika kita mengetahui sesuatu, maka kita sedang tidak mengetahui sesuatu,” katanya di penghujung perkuliahan. Saya bersyukur begitu banyak pengalaman yang bisa saya renungkan hingga hari ini.
Sepintas, saya teringat sebuah cerita yang Ayah pernah dongengkan saat saya masih kecil dulu. Kalau tidak salah, judulnya Bebek Kecil Berjalan-jalan. Saya ingat betul cover bukunya, bergambar seekor bebek kecil berwarna kuning dengan paruh oranye, lalu terdapat latar sebuah bangunan peternakan berwarna cokelat di belakangnya. Ah, itu adalah buku pertama saya.

Ceritanya sederhana, tentang seekor bebek yang berjalan-jalan sendirian. Ia meninggalkan induknya karena penasaran akan dunia di luar peternakan tempat ia tinggal. Modal nekad, ia pun pergi sendirian. Di perjalanan, bebek kecil bertemu dengan banyak teman baru yang belum pernah ia temui sebelumnya, bahkan ia tak pernah tahu jika ada makhluk seperti itu. Ia bertemu kuda, biri-biri, dan yang lainnya (saya sedikit lupa), hingga akhirnya ia kembali ke rumah dan bertemu induknya. Sekilas tidak ada yang istimewa dari perjalanannya, hanya seekor bebek yang penasaran.

Ketika bertemu kuda, ia bertanya pada kuda, siapakah kamu? Dari mana kamu berasal? Mengapa tubuhmu besar sekali? Apa yang kau makan? Aku juga ingin bertubuh seperti itu, katanya. Kuda menjawab semua pertanyaan bebek, mereka berteman setelah pertemuan itu. Selesai berbicara dengan kuda, bebek kecil memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanannya. Ia sangat senang, sekarang ia tahu kalau ada makhluk bernama kuda, tubuhnya besar dan tenaganya kuat. Namun, ia malah terpikirkan sesuatu yang lain, mungkinkah ada makhluk lain selain bebek dan kuda? Bebek kembali berjalan.

Lalu ia bertemu makhluk lain, biri-biri. Betapa takjub bebek kecil melihat bulu sebesar, sehalus, dan seputih yang dimiliki biri-biri. Bebek berhenti dan berbicara pada biri-biri. Bebek menanyakan hal yang sama seperti yang ia tanyakan kepada kuda. Saat itu bebek tahu bahwa ada makhluk lain selain dirinya dan kuda. Begitu seterusnya selama perjalanan bebek kecil, hingga akhirnya ia memutuskan untuk kembali.

Tidak ada yang istimewa memang dari cerita saya tersebut. Begitu juga yang saya pahami ketika dulu diceritakan oleh ayah. Saya baru paham maksud cerita itu sekarang, terlambat memang, mungkin otak saya yang baru bisa tersambung saat ini he-he. Hal yang saya pahami saat ini tentang cerita bebek itu adalah pengetahuan yang tidak akan pernah habis. Ketika si bebek kecil tahu sesuatu, maka ia sedang tidak mengetahui sesuatu yang lain. yang mungkin jauh lebih besar atau lebih sederhana dari apa yang telah ia ketahui.


Tidak ada manusia yang benar-benar tahu. Lalu, kebenaran mana yang paling benar? Siapa yang benar-benar benar? Sudahkah kita benar? Manusia tidak penah tahu. Manusia hanya bisa mengimani kebenaran tersebut. Percaya bahwa apa yang ia yakini adalah benar, lalu sisanya membiarkan Tuhan bertindak. Manusia tidak pernah tahu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lawan Konflik Pasca Pilkada dengan Penghayatan Konsep Keberagaman

Gamam Bercua