Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Katanya, Ini Dunia yang Berbeda

Gambar
Sampai pada titik ini, saya menyesal. Saya selalu heran, mengapa dunia ini selalu mempertanyakan dan memperdebatkan perbedaan? Siapa itu perbedaan? Mengapa ia begitu diperlakukan amat penting? Mengapa ia selalu menjadi topik yang tidak pernah habis untuk dibicarakan? Mengapa perbedaan seolah-olah menjadi sebuah pengganggu, penghalang, pembatas, penyekat, dan segala hal lain yang terlihat tidak benar? Apa itu perbedaan? Bagaimana ia bisa ada? Bukankah perbedaan hanya sebuah kosakata? Kata perbedaan memiliki derajat yang sama dengan kata lainnya, hanya sebuah kosakata. Tetapi di dunia ini, kata perbedaan seperti sebuah momok yang mengerikan, yang harus dihindari, dan tidak boleh ada. Berdasarkan KBBI Daring, kata perbedaan berasal dari kata beda,yang berarti (n) sesuatu yang menjadikan berlainan (tidak sama) antara benda yang satu dan benda yang lain; ketidaksamaan dan (n) selisih; panutan. Sedangkan kata perbedaan berarti (n) beda; selisih dan (n) perihal yang berbeda; p...

Tak Bercais

Gambar
Foto diculik dari:  http://radio-pendimi.com/webfaqe/wp-content/uploads/2012/04/qiri_zi.jpg Hatiku serupa lilin, Pasti meleleh jika tersulut api Mencair lalu terjatuh Bergelinjang hingga semua runtuh, namun Hatiku serupa lilin Seberapa pun panas menyengatku Aku tetap bisa kembali membeku Mengeras, meski tak sama seperti dulu Kau hangat yang memerah Menyala, menggeliat jika diterpa angin Bercahaya namun tak terbaca Gerakmu tak terduga, air mukamu Tak pernah bisa kutafsir Begitu, kau pasti buatku Lemah meleleh Jatuh berjatuh Namun, aku serupa lilin Habis terbakar Tak tahu sebab Menuju pagi yang dingin Kendal, 01.25 

Lawan Konflik Pasca Pilkada dengan Penghayatan Konsep Keberagaman

“Kalbu rakyat adalah kiblat utama.” Saya lantas teringat petikan salah satu puisi W.S Rendra tersebut ketika berpikir mengenai pilkada di Indonesia. Tak dipungkiri, pilkada merupakan salah satu pengejawantahan demokrasi di negeri ini. Di mana prinsip demokrasi adalah mengatasnamakan rakyat atas setiap keputusan. Kekuasaan pada dasarnya merupakan milik masyarakat dan berada di tangan rakyat. Tidak salah jika Rendra menganalogikan kalbu rakyat sebagai kiblat utama bagi negara kesatuan ini. Sebagai negara penganut demokratis, Indonesia menjunjung tinggi kedaulatan rakyat, di mana hak-hak rakyat harus terpenuhi. Pasal 1 ayat 2 UUD 1945 secara tegas menyatakan “Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-undang.” Dengan begitu, aspirasi rakyat merupakan elemen terpenting yang menentukan tujuan serta arah negeri ini. Melalui pilkada, rakyat menumpahkan aspirasinya dan mengamanahi kekuasaan yang dimilikinya kepada para pemimpin. Maka, dapat dikatakan urgensitas ...

Tidak Pernah Tahu

Gambar
www.lovethispic.com Petang ini tiba-tiba saya teringat ucapan salah satu dosen beberapa hari lalu. “Ketika kita mengetahui sesuatu, maka kita sedang tidak mengetahui sesuatu,” katanya di penghujung perkuliahan. Saya bersyukur begitu banyak pengalaman yang bisa saya renungkan hingga hari ini. Sepintas, saya teringat sebuah cerita yang Ayah pernah dongengkan saat saya masih kecil dulu. Kalau tidak salah, judulnya Bebek Kecil Berjalan-jalan. Saya ingat betul cover bukunya, bergambar seekor bebek kecil berwarna kuning dengan paruh oranye, lalu terdapat latar sebuah bangunan peternakan berwarna cokelat di belakangnya. Ah, itu adalah buku pertama saya. Ceritanya sederhana, tentang seekor bebek yang berjalan-jalan sendirian. Ia meninggalkan induknya karena penasaran akan dunia di luar peternakan tempat ia tinggal. Modal nekad, ia pun pergi sendirian. Di perjalanan, bebek kecil bertemu dengan banyak teman baru yang belum pernah ia temui sebelumnya, bahkan ia tak pernah tahu jika a...

Kenalin, Namanya Pilihan

Ada beberapa hal yang tak mampu terdefinisikan. Pada saat itu, semua hal yang berbau ilmiah hanya bisa enyah. Sesuatu, seperti udara pada ruangan hampa yang seketika menyergap perasaan seseorang. Kemudian, segala yang ia rasa seperti sabana luas yang hanya berteman belukar namun tak berpenghuni. Tidak ada yang bisa menjelaskan. Hanya hati dan intuisi, mungkin saja bisa memahami? Saya berpendapat seperti itu bukan berarti menolak kebenaran ilmiah. Namun, memang ada hal-hal menakjubkan dari manusia yang tak bisa dinalar. Segala enigma tersebut memang menjadi pertanyaan yang dipaksa terjawab oleh penjelasan-penjelasan ilmiah. Manusia memang gemar menerka, menghubungkan, dan, jika bisa terhubung, jadilah sebuah jawaban. Tetapi, bukankah semua tetap misteri? Ada tangan maha hebat di balik skenario kehidupan manusia. Dramatis. Manusia tidak pernah mengetahui konsep ‘apa jadinya takdir’ dalam kehidupan mereka. Jangankan esok atau lusa, gerak jarum jam di dinding pun tidak mampu diterka. ...